20 August 2009

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Tata Cara Penggunaan Lift

Berikut ini adalah tata cara penggunaan lift yang baik dan benar untuk menghindari kecelakaan dan hal-hal lain yang tidak kita inginkan.

Sebelum masuk ke dalam car lift

  • Berdiri di belakang calon penumpang terdahulu (antri)
  • Tentukan arah, tekan salah satu saja tombol "naik" atau "turun" sesuai yang dikehendaki
  • Mendekat pada lift yang tanda kedatangannya (hall lantern) menyala
  • Bila membawa anak kecil, pegang tangannya
  • Dahulukan orang tua, ibu hamil, dan orang cacat/ dengan kursi roda
  • Apabila lift penuh, tunggu lift berikutnya
  • Dahulukan penumpang yang keluar
  • Gunakan lift barang apabila membawa barang berat dan menyita tempat
  • Hati-hati pada saat melangkah masuk
  • Jangan menekan kedua tombol sekaligus naik dan turun
  • Jangan menekan tombol secara berulang-ulang
  • Jangan menekan tombol menggunakan benda /barang keras/basah
  • Jangan mencoba membuka pintu dengan paksa
  • Jangan memaksa masuk car lift pada saat pintu mulai menutup
  • Jangan mencoba menahan pintu (dengan tangan, kaki, atau mengganjal dengan barang)

Pada saat di dalam car lift


  • Berdiri di bagian belakang car dan menghadap ke pintu.
  • Berpegangan pada hand rail (apabila ada)
  • Pegang erat bila membawa anakkecil atau binatang peliharaan
  • Perhatikan baik-baik lampu indikasi penunjuk lantai
  • Jangan memaksa masuk ke dalam car lift apabila sudah penuh
  • Jangan membuat gaduh/bercanda, bergerak berlebihan di dalam car lift
  • Jangan berusaha membuka pintu saat lift berjalan
  • Jangan sampai ada barang/pakaian yang terjepit pintu
  • Jangan mendorong/menekan pintu saat lift berjalan
  • Jangan bersandar dan membelakangi pintu lift
  • Jangan menggunakan lift pada saat terjadi kebakaran.
  • Jangan merokok di dalam lift
  • Jangan menekan tombol lantai yang tidak perlu atau berulang-ulang
  • Jangan membuang sampah apapun di dalam lift

Semoga bermanfaat. Terimakasih.

19 August 2009

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift

Setelah pada posting sebelumnya saya menguraikan tentang perjalanan dan pengalaman unik menuju tempat acara Pembinaan K3 tanggal 9 sampai dengan 11 Agustus 2009 di Bogor, kali ini akan saya tuliskan beberapa hal dalam garis besar hasil dari Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bidang Teknisi dan Penyelia Lift yang diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi provinsi DKI Jakarta.

Keselamatan dan Kesehatan kerja adalah hak setiap tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan serta setiap orang lainnya yang berada dalam lingkungan kerja seperti tertuang sepenuhnya dalam Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yang dapat didownload di sini.

Khusus untuk lingkungan kerja yang berhubungan dengan lift, UU No.1 tahun 1970 dalam hal ini menyebutkan pada Bab II pasal 2 ayat (2) huruf f "dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, baik di daratan, melalui terowongan, di permukaan air, dalam air, maupun di udara;". Kemudian syarat-syarat keselamatan lift pengangkut orang dan barang diatur dalam Permen no.03/Men/1999 yang selengkapnya dapat didownload di sini.

Berikut ini Undang-Undang dan peraturan yang mengatur penyelenggaraan lift:
  • UU No.1 tahun 1970, tentang persyaratan keselamatan kerja
  • PP No.23 tahun 2004, tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi
  • Permen No.03/MEN/1978, tentang penunjukan dan kewenangan Ahli K3
  • SNI-1718-1989, tentang pemeriksaan dan pengujian lift
  • Permen No.03/MEN/1995, tentang syarat-syarat penunjukan Perusahaan jasa K3 (PJK3)
  • Permen No.03/MEN/1998, tentang tata cara pelaporan kecelakaan kerja
  • Permen No.03/MEN/1999, tentang syarat-syarat keselamatan lift pengangkut orang dan barang
  • Permen No.407/BW/1999, tentang persyaratan teknisi lift
  • Permen No.07/MEN/2006, tentang ijin mempekerjakan tenaga kerja Asing (IMTA)

Hal-hal yang perlu diperhatikan keselamatan dan kesehatan dalam lingkungan kerja lift adalah:
  • Perencanaan
Dalam tahap perencanaan, pengawasan dilakukan pada saat penyerahan gambar rencana. lebih ditekankan pada fungsi dan kegunaan lift tersebut sesuai dengan perhitungan traffic analysis yaitu perhitungan jumlah, kapasitas dan kecepatan lift dalam suatu gedung yang disesuaikan dengan jumlah dan populasi pengguna. sedangkan gambar rencana meliputi gambar konstruksi lengkap dengan detailnya, perhitungan konstruksi, spesifikasi dan sertifikasi material (Permen No.03/MEN/1999 Bab III Pasal 24 ayat (2)dan (4)).
  • Pemasangan
Tahap pemasangan, tahap assembling dari semua peralatan yang telah direncanakan dan diproduksi sesuai gambar rencana. Yang perlu diperhatikan dalam tahapan ini adalah:
  • Dipasang oleh perusahaan yang memiliki surat ijin instalatur
  • Memiliki surat ijin pemasangan
  • Pemasangan diawasi oleh supervisor yang kompeten dan memiliki SIO (Surat Ijin Operasi) penyelia pengawas pemasangan lift
  • Pemasangan dilaksanakan oleh teknisi yang memiliki SIO adjuster.
  • Dilaksanakan pemeriksaan dan pengujian oleh perusahaan riksa uji (PJK3 Riksa Uji) dan disahkan oleh pengawas yang ditunjuk sebelum pesawat tersebut dipakai.
  • Pengoperasian
Setelah pesawat lift selesai dipasang dan telah memiliki surat ijin pemakaian lewat serangkaian riksa uji, maka pesawat lift tersebut layak untuk digunakan. berikut ini hal-hal yang perlu dilaksanakan agar pengoperasian pesawat lift dapat berjalan dengan baik dan aman (setiap saat).
  • Pengoperasian dikelola dan diawasi oleh teknisi yang kompeten dan memiliki SIO sebagai penyelia pengawas operasi lift.
  • Dipergunakan dan dioperasikan dengan benar
  • Dirawat dan diperbaiki secara benar oleh teknisi yang kompeten dan memiliki SIO perawatan dan perbaikan
  • Memiliki manajemen kondisi darurat

Demikian kira-kira sedikit pembahasan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam lingkungan kerja Lift. Sebenarnya masih banyak materi-materi yang berhubungan namun pembahasannya akan disambung dalam posting berikutnya. Terimakasih.

10 August 2009

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pembinaan K3

Posting langsung dari acara Pembinaan K3 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta tanggal 9-11 Agustus 2009. Yang diadakan di hotel Karwika Cisarua Bogor.

Persiapan untuk berangkat, dan tetek bengeknya dari jam 8 pagi. Kemudian berangkat 8 orang dari beberapa kompleks mulia group yang seharusnya 19 orang. Sisanya karena rumahnya sekitar daerah Bogor, memilih untuk berangkat sendiri-sendiri. Tadinya aku pikir mau naik motor saja. Tapi ya kesepakatan bersama akhirnya diputuskan untuk naik kereta saja biar cepat. Maksudnya lebih cepat dari mobil. Kemudian berangkat juga naik bus ke stasiun cawang jam 8.30, langsung beli tiket kereta dan ngga lama kereta datang. Hmmm... Pengalaman pertama naik kereta listrik ekonomi nih. Norak.

Kereta listrik? Ekonomi? Sebelumnya cuma bisa bayangin waktu temen-temen pada cerita-cerita, lihat berita di televisi dan ya belum terfikir sebelumnya untuk punya niat naik kereta itu. Ketika datang KRL jurusan jakarta-bogor itu langsung tercium aromanya. Citarasa Indonesia yang kental dan sedikit keindahan dari pencitraan berbagai dimensi tentang tumpuk-tumpukan dan tumpang-tindih penumpang yang berdesak-desakan. Aku juga larut dan baru sadar bahwa kereta sudah mulai jalan ketika aku baru mengayunkan tangan untuk meraih hanger yang ada di pintu. Begitu sesaknya sampai aku harus ditarik oleh temenku yang sudah ada di dalam lebih dulu. Huh... Belum berakhir di situ saja. Sesak dan himpitan dari penumpang yang berjejal membuat pening ditambah keringat dan bau ketiak yang mau ngga mau diterima dengan lapang dada. Indah. Satu lagi pengalaman di depan mata aku saksikan langsung yaitu Copet. Tepat di depanku waktu itu selepas dari stasiun depok seorang pria yang penampilannya menurutku mencurigakan dengan mulut yang terus mengunyah permen karet, bagpack di depan dada, dengan santai tanpa bergantung pada hanger 1 tangan pun, karena tangannya beroperasi. Tepat di depanku, sekali goyang langsung srett... Tanpa disadari orang di sekitarnya, satu orang di depannya dompetnya berpindah kantong. Uh... Tak terbayang sebelumnya akan benar-benar melihat hal seperti itu. Tak ada yang bisa aku lakukan selain turun dari kereta setelah disentuh pundakku oleh teman-teman dan tersadar kereta berhenti di stasiun Bogor.
Dari stasiun kereta jam 10.37 istirahat beli air minum, langsung carter mobil ke hotel. Aku pikir dekat. Eh balik arah terus muter lagi lewat jalan tol lg. Hehh... Macet? Ya iyalah hari Minggu di puncak.

Akhirnya sampai hotel jam 12, langsung disambut pengelola hotel. Tadinya niat sampai hotel langsung tidur. Ngantuk ngga ketulungan. 24 jam mata sudah over hour banget. Tapi harus ditunda dulu karena ada yang lebih urgent tanpa order nih. Makan siang. Hualah ... Cari warung makan jalan kaki lagi ke depan ke jalan raya mungkin lebih 400meter dari hotel.

Perut kenyang, baru mulai merebahkan badan. Uh,.. Lumayan, lumayan bisa tidur sebentar. Tepat jam 8 acara pembukaan dimulai setelah makan malam. Acara pelatihan dibuka oleh kepala disnakertrans Jakarta bp. H Deded.
Setelah itu, lanjutkan... Tidur Lagi.

06 August 2009

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Sengatan Listrik dan P3K

Sengatan listrik terjadi apabila arus listrik mengalir melalui tubuh. Tubuh manusia lebih dari 60% terdiri dari cairan sehingga sangat memungkinkan untuk menjadi konduktor atau listrik yang cukup bagus. Akibat tersengat listrik adalah terbakar, kerusakan organ, masalah pada jantung dan peredaran darah dan dapat mengakibatkan kematian.

Tanda-tanda dan gejala:
  • Terkejut, rasa geli, terjadi perubahan dalam pandangan, ucapan, dan dalam perasaan.
  • Terbakar dan luka terjadi karena listrik masuk dan keluar melalui tubuh.
  • Tubuh serasa tidak dapat digerakkan dengan normal. Sesak nafas, jantung berdenyut tidak beraturan.
  • Tidak sadar

Penyebab:
  • Menyentuh tegangan listrik, kabel tanpa isolasi, sumber-sumber listrik seperti outlet atau stop kontak.
  • Menyentuh langsung orang yang tersengat listrik.
  • Tersambar petir (lebih dari 30 juta volt).

Saat terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan yaitu tersengat listrik atau kejutan listrik pada teman, saudara atau siapapun di dekat anda, setelah membaca blog ini usahakan untuk dapat memberikan pertolongan pertama pada korban.

Apa yang harus dilakukan?

Pertama Matikan sumber listrik jika memungkinkan. Jika tidak, putuskan hubungan antara sumber listrik dengan korban menggunakan benda yang kering bukan logam jangan menyentuh korban secara langsung karena kemungkinan arus listrik akan mengalir pada tubuh anda juga.
Kedua Periksa tanda-tanda pernafasan, denyut jantung, dan pergerakan korban.
Ketiga Panggil bantuan di sekitar tempat kejadian.
Keempat Jika korban bernafas dan denyut nadi berhenti lakukan CPR (pemberian nafas buatan).
Kelima Jika bernafas dan sadar, pulihkan atau cegah shock dengan posisi kepala lebih rendah dari anggota badan yang lain dan kaki agak diangkat lebih tinggi.
Terakhir Lihat luka bakar jika terjadi, lindungi luka dengan pembalut steril jika ada atau menggunakan kain yang bersih. Jangan menggunakan kain yang berserat longgar seperti handuk, kain wool, atau selimut karena seratnya akan menempel pada luka tersebut.

Tingkat bahaya kejutan listrik tergantung pada seberapa tinggi tegangan listrik tersebut, bagaimana arus mengalir melalui tubuh, kebugaran korban dan seberapa cepat korban dirawat.

Terbakar oleh listrik mungkin terjadi walaupun kecil atau tidak terlihat sama sekali, tetapi kerusakan pada sel-sel di bawah kulit yang disebut luka dalam sering terjadi ketika terkena kejutan listrik. Jika lebih kuat arus listrik yang mengalir melalui tubuh, kerusakan organ-organ dalam juga dapat terjadi misalnya denyut jantung terganggu. Kadang juga cedera lain terjadi ketika kita terpental kemudian jatuh.

Pencegahan:
  • Laporkan kepada PLN (Perusahaan Listrik Negara) apabila menemukan atau melihat kabel distribusi atau tiang listrik jatuh atau putus.
  • Pasang pengaman arus bocor pada instalasi rumah menggunakan ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) sehingga jika terjadi kebocoran arus atau bahasa mudahnya jika kabel putus mengenai lantai basah atau air, alat tersebut akan memutuskan arus listrik.
  • Periksa dan ganti kabel-kabel instalasi listrik rumah apabila sudah tidak layak atau rusak .
  • Jangan menghidupkan atau mematikan atau menyentuh peralatan listrik apapun saat tangan, atau badan basah, atau sebagian tubuh berada di air.
  • Untuk Outlet yang jaraknya dengan lantai kurang dari satu meter atau berada di luar rumah, gunakan outlet yang bertutup.
  • Sebelum memperbaiki instalasi listrik keluarkan sekring dari kotak sekring atau turunkan MCB di bawah KWh meter anda. Jangan hanya mematikan switch atau sakelar saja.
  • Pasang tanda bahaya pada tempat-tempat yang beresiko tersengat listrik.

ref: American Institute for Preventive Medicine

03 August 2009

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Lampu Fluorescent


Lampu fluorescent atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan lampu TL dan tidak jarang kita juga mendengar sebagai lampu neon. Lampu Fluorescent atau lampu pendar berbeda dengan lampu neon. Kemudian entah apa kepanjangan dari "TL" tidak saya temukan jawaban yang paling tepat sampai Google juga tidak menemukannya, mungkin dan menurut saya kepanjangannya Tube Lamp (Lampu Tabung) tapi lampu pijar juga pakai tabung... lampu halogen juga ada yang pakai tabung kan. Tapi sudahlah... Yang jelas lampu Fluorescent atau TL adalah jenis lampu yang di dalam tabungnya terdapat sedikit mercury dan gas argon dengan tekanan rendah, serbuk phosphor yang melapisi seluruh permukaan bagian dalam kaca tabung lampu tersebut. Tabung ini mempunyai dua elektroda pada masing-masing ujungnya. Oh ya... elektroda maksudnya adalah kawat pijar sederhana. Saat kita menyalakan lampu, arus mengalir pada elektroda kemudian elektron-elektron di dalamnya akan berpindah tempat dari ujung yang satu ke ujung tabung yang lain. Energi listrik ini juga merubah mercury dari cairan menjadi gas sehingga pada saat bersamaan atom mercury yang berupa gas ini akan tertabrak oleh elektron. Tabrakan ini menyebabkan energi elektron meningkat. Ketika energi elektron kembali normal saat itulah elektron-elektron itu melepaskan energi menjadi cahaya ringan.

Pengoperasian lampu fluorescent membutuhkan setidaknya tabung lampu fuorescent, starter, dan ballast dan opsional ditambah dengan kapasitor untuk memperbaiki faktor daya yang ditimbulkan ballast sebagai induktor. Starter merupakan komponen bimetal yang dibangun di dalam sebuah tabung vacuum yang biasanya diisi gas neon. Starter berguna untuk start-up sebagai switch untuk memanggil ballast agar mengeluarkan spike tegangan tinggi sehingga elektron dalam tabung bergerak dari elektroda satu ke elektroda yang lainnya. Hal ini terjadi berulang-ulang sampai elektroda dialiri arus
yang cukup sehingga kadang atau sering kita melihat lampu ini berkedip saat pertama dinyalakan.

Lampu Fluorescent saat ini sudah sangat luas penggunaannya baik untuk penerangan rumah tinggal maupun industri dan perkantoran. Lampu jenis ini termasuk dalam kategori Lampu Hemat Energi (LHE) faktor utamanya yaitu intensitas cahaya yang dikeluarkan lebih tinggi daripada lampu pijar (Incandescent Lamp) dalam hitungan watt yang sama. Kelebihan yang lain yaitu usia pakai cukup panjang rata-rata produsen mengKlaim sampai 20ribu jam pemakaian. Bidang pencahayaan lebih luas dibanding dengan lampu pijar ataupun halogen. Temperatur lampu lebih rendah. Selain itu produknya bermacam-macam jenis, bentuk dan warnanya. Warna dari lampu TL ini banyak juga macamnya. Istilah yang biasa kita temukan pada bungkus lampu yang kita beli menentukan warna dan warna yang dikeluarkan oleh sang lampu. Berikut contohnya :
  • Warm /827 biasa digunakan di Hotel, restauran, dan Mall.
  • Warm white /830 biasa digunakan di perkantoran, sekolah, gedung olahraga, dan di pertokoan.
  • Cool /840 /33 biasa digunakan di rumah tinggal, gedung olahraga, Industri dan Mall serta rumah sakit.
  • Daylight /860 /54 biasa digunakan untuk dekorasi, industri khusus misalnya kertas dan percetakan.
Masih banyak lagi untuk lampu-lampu yang khusus dengan warna yang khusus misalnya untuk aquarium, lampu ultraviolet (germidical lamp) yang berguna untuk anti bakteri dan juga penghasil ozon untuk mensterilkan air mineral.
Berikut adalah jenis-jenis lampu fluorescent yang dibedakan dari bentuknya:

  • Linear fluorescent
Lampu TL panjang itulah sebagian besar orang menyebut lampu ini. Ini adalah lampu fluorescent klasik dan menurut sejarahnya, lampu ini diperkenalkan sejak tahun 1950 lima tahun setelah Indonesia merdeka.
  • Non-Linear fluorescent
Jenis yang satu ini bentuknya ada yang lingkaran, letter "U", dan ada juga yang berbentuk panel modul seperti papan.
  • Compact Fluorescent (CFL)
Lampu ini dibagi dua jenis lagi yakni self-ballasted atau ballast yang sudah terinstall di dalam rangkaian lampu sehingga tinggal pakai seperti yang sekarang banyak kita jumpai sebagai lampu SL yang dapat langsung dipasang pada fitting ulir biasa. Satu lagi lampu CFL yang haris memasangkan dengan ballast sendiri dan fitting khusus seperti linear fluorescent / TL namun yang satu ini bentuknya sangat ringkas dan kecil.



Seperti halnya manusia semua tidak ada yang sempurna. Begitu pula lampu fluorescent. Kita bahas mengenai kekurangan dan kelemahan lampu fluorescent ini. Nomor satu pasti harga lampu yang tinggi kemudian ballast konvensional berupa kumparan induksi magnetik selain mempengaruhi harga juga sering merugikan ketika terjadi minor fault mengakibatkan suara mendengung, namun hal ini bisa diatasi dengan menggantinya dengan menggunakan ballast elektronik. Hal lain yang menjadi kelemahan
selanjutnya adalah masalah limbah lampu fluorescent yang banyak pihak menyebutkan limbah lampu ini mengandung banyak unsur gas beracun dan mercury atau air raksa selain dari serbuk phosphor. Meskipun saat ini ada program daur ulang lampu jenis fluorescent ini namun belum ada di Indonesia. Bahkan penanganan limbahnya masih bercampur dengan limbah rumah tangga lainnya.



Sedikit tips saat menghadapi dan menemukan lampu TL yang pecah, gunakan sarung tangan karet, bersihkan area tempat lampu pecah tersebut dengan menggunakan lap kain basah karena serbuk phosphor yang tumpah mengandung mercury sehingga tidak akan bersih kalau menggunakan sapu atau vacuum cleaner. Seteah itu pecahan kaca dan kain yang tadi digunakan untuk membersihkan dimasukkan ke dalam plastik dan jangan dicampur dengan sampah yang lain.

Teknologi terbaru lampu fluorescent untuk menghindari kecelakaan akibat lampu yang pecah, beberapa produsen lampu sudah mengembangkan lampu fluorescent dengan proteksi menggunakan plastik polycarbonate sebagai casing sehingga melindungi phosphor dan potongan kaca ketika lampu pecah.